
SURABAYA – Dalam upaya meningkatkan kualitas Guru Matematika di Kabupaten Gresik dalam penyusunan soal AKM numerasi, Program Studi S1 Matematika Universitas Airlangga sukses menyelenggarakan kegiatan pengabdian bekerja sama dengan MGMP Matematika Kabupaten Gresik dan SMAN 1 Dukun, Gresik. Kegiatan yang terselenggara pada Sabtu, 26 September 2026 bertempat di SMAN 1 Dukun, Kabupaten Gresik ini mengusung tema “Optimalisasi Kemampuan Akademik Siswa Melalui Penguatan Kompetensi Guru Terhadap AKM Numerasi”, dengan Bustomi, S.Si., M.Si. sebagai ketua pelaksana pengabdian.
Pelatihan ini disambut antusias oleh para guru matematika se-Kabupaten Gresik. Kegiatan diawali dengan sambutan dari Kepala SMAN 1 Dukun, Siti Khofifah, S.Pd., M.Pd. Beliau menyoroti masih rendahnya nilai asesmen numerasi siswa, sehingga menyambut baik digelarnya pelatihan ini. Dukungan serupa juga disampaikan oleh Ketua MGMP Matematika SMA Kabupaten Gresik, Isbandi Anang Tatur, S.Si. Guna memberikan pemahaman yang mendalam, pelatihan menghadirkan narasumber ahli dari Universitas Negeri Surabaya, Dr. Abdul Haris Rosyidi, M.Pd., untuk membedah AKM numerasi berbasis TKA secara kontekstual.
Pelatihan ini menerapkan metode pembelajaran yang berorientasi praktis dan aplikatif. Kegiatan diawali dengan penyampaian pemaparan materi secara teoritis, yang akan ditindaklanjuti secara sistematis melalui sesi microteaching dan pemberian umpan balik (feedback) konstruktif beberapa hari setelahnya. Guna menjamin efektivitas serta kelancaran pelaksanaan microteaching, para peserta dibekali dengan serangkaian penugasan terstruktur, pendampingan intensif, serta penelaahan soal secara komprehensif.
Materi yang disampaikan narasumber di antaranya adalah “pembelajaran matematika di SMA memiliki dua tujuan utama, yakni mengantar siswa masuk Perguruan Tinggi melalui TKA dan SNBT, serta membekali siswa dengan kemampuan untuk belajar hidup. Meskipun tidak semua siswa berbakat di bidang matematika atau akan menempuh studi yang kental dengan matematika, tidak ada profesi yang bisa lepas sepenuhnya dari matematika, sehingga setiap siswa minimal perlu menguasai logika berpikir matematika. Gurupun dituntut untuk tidak menambah fobia matematika pada siswa dan perlunya mengintegrasikan numerasi dalam pembelajaran. Numerasi sendiri didefinisikan sebagai kemampuan menggunakan pengetahuan matematika untuk menjelaskan kejadian, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari, yang menghubungkan matematika sekolah dengan konteks non-matematis. Model numerasi Goos (2007) mencakup lima elemen, yaitu pengetahuan matematis, konteks, disposisi, peralatan, dan orientasi kritis, sementara kontinum makna numerasi Goos dan Sullivan (2022) membedakan numerasi sebagai keterampilan teknis (prosedural menuju fungsional) dan sebagai praktik sosial (kontekstual menuju kritis)”, sebagaimana disampaikan oleh narasumber.
Kegiatan pengabdian berupa pelatihan AKM numerasi berbasis TKA ini memiliki keterkaitan erat dengan beberapa poin dalam Sustainable Development Goals (SDGs), terutama dalam mendukung peningkatan mutu akademik dan ekosistem riset. Pertama, kegiatan ini berkontribusi langsung pada SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kompetensi teknis dan literasi digital bagi guru matematika. Dengan menguasai AKM numerasi berbasis TKA sebagai dasar dalam penulisan soal AKM numerasi, para guru dibekali keterampilan penting untuk menghasilkan soal AKM numerasi disertai proses pembelajaran yang berkualitas dan adaptif bagi siswa. Selain itu, kegiatan ini juga berkontribusi pada pencapaian SDG 1 (Tanpa Kemiskinan). Pendidikan dan penguasaan numerasi merupakan salah satu eskalator utama menuju kehidupan yang lebih baik. Melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pemahaman numerasi, angka kemiskinan khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah dapat diturunkan dan diminimalisir secara berkelanjutan sebagai dampak tidak langsung dari keberhasilan proses pendidikan. Terakhir, pelaksanaan pelatihan ini selaras dengan SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan) melalui penguatan kesetaraan kesempatan bagi guru. Pemberian materi untuk meningkatkan kompetensi guru serta perluasan akses pendidikan di daerah seperti Kabupaten Gresik akan menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten serta profesional yang tersebar secara merata di seluruh wilayah di Indonesia.