
SURABAYA – Untuk meningkatkan kualitas guru mata ajaran matematika di Kabupaten
Madiun dalam penguatan literasi matematika, Departemen Matematika Universitas Airlangga
sukses menyelenggarakan kegiatan pengabdian bekerja sama dengan MGMP Matematika
Kabupaten Madiun dan SMAN 1 Saradan, Madiun. Kegiatan yang terselenggara pada Kamis,
8 Oktober 2026 bertempat di SMAN 1 Saradan ini mengusung tema “Peningkatan Kompetensi
Guru Untuk Mendukung Capaian Akademik Siswa Melalui Penguatan Literasi Matematika Bagi
Guru SMA di Kabupaten Madiun”, dengan Dr. Inna Kuswandari, M.Si. sebagai ketua pelaksana
pengabdian.
Pelatihan ini disambut antusias oleh para guru matematika se-Kabupaten Madiun,
ditunjukkan oleh kehadiran guru dari berbagai wilayah di Kabupaten Madiun sebanyak 44
orang. Kegiatan diawali dengan sambutan dari Kepala SMAN 1 Saradan, Yuli Chasanah, S.Pd.,
M.Pd.. Beliau menyoroti pentingnya literasi untuk dapat diterapkan dalam memberikan
contoh-contoh problem yang muncul dalam soal TKA siswa, yang diharapkan akan berdampak
pada meningkatnya capaian akademik siswa. Dukungan serupa juga disampaikan oleh Ketua
MGMP Matematika SMA Kabupaten Madiun, Drs. Agus Widagda, yang menyoroti perlunya
guru senantiasa meningkatkan kemampuannyai melalui forum diseminasi materi terkini untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran matematika SMA. Guna memberikan pemahaman yang
mendalam, pelatihan menghadirkan narasumber ahli dari Universitas Negeri Surabaya, Dr.
Abdul Haris Rosyidi, M.Pd., untuk membedah literasi matematika berbasis TKA secara
kontekstual.
Materi yang disampaikan narasumber di antaranya adalah “pembelajaran matematika
di SMA memiliki dua tujuan utama, yakni mengantar siswa masuk perguruan tinggi melalui
TKA dan SNBT, serta membekali siswa dengan kemampuan untuk belajar hidup. Meskipun
tidak semua siswa berbakat di bidang matematika atau akan menempuh studi yang kental
dengan matematika, tidak ada profesi yang bisa lepas sepenuhnya dari matematika, sehingga
setiap siswa minimal perlu menguasai logika berpikir matematika. Gurupun dituntut untuk
tidak menambah fobia matematika pada siswa dan perlunya menguatkan literasi dalam proses
pembelajaran”. Literasi diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk membaca, menulis,
memahami, menganalisis, menginterpretasikan, dan menggunakan informasi secara efektif
dalam berbagai bentuk. Adapun literasi matematika termasuk dalam kategori literasi numerasi,
yakni kemampuan menggunakan angka dan simbol matematika untuk memecahkan masalah
sehari-hari.
Pelatihan ini menerapkan metode pembelajaran yang berorientasi praktis dan aplikatif.
Kegiatan diawali dengan pemaparan materi secara teoritis, yang akan ditindaklanjuti dengan
pemberian umpan balik (feedback) konstruktif dari tugas peserta dan dilanjutkan dengan sesi
microteaching beberapa hari setelahnya. Guna menjamin efektivitas serta kelancaran
pelaksanaan microteaching, para peserta dibekali dengan serangkaian penugasan terstruktur,
pendampingan intensif, serta penelaahan tugas secara komprehensif.
Kegiatan pengabdian berupa pelatihan penguatan literasi berbasis TKA ini memiliki
keterkaitan erat dengan beberapa poin dalam Sustainable Development Goals (SDGs),
terutama dalam mendukung peningkatan mutu akademik dan ekosistem riset. Pertama,
kegiatan ini berkontribusi langsung pada SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui
peningkatan kompetensi teknis dan literasi digital bagi guru matematika. Dengan
meningkatnya literasi matematika berbasis TKA sebagai dasar dalam penulisan soal AKM
numerasi maupun kriteria HOTS, para guru dibekali keterampilan penting untuk membuat soal
serupa TKA disertai proses pembelajaran yang berkualitas dan adaptif bagi siswa. Selain itu,
kegiatan ini juga berkontribusi pada pencapaian SDG 1 (Tanpa Kemiskinan). Pendidikan
merupakan salah satu eskalator utama menuju kehidupan yang lebih baik. Melalui
peningkatan kualitas pendidikan dan penguatan literasi matematika/numerasi, angka
kemiskinan khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah dapat diturunkan dan
diminimalisir secara berkelanjutan sebagai dampak tidak langsung dari keberhasilan proses
pendidikan. Terakhir, pelaksanaan pelatihan ini selaras dengan SDG 10 (Berkurangnya
Kesenjangan) melalui penguatan kesetaraan kesempatan bagi guru. Pemberian materi untuk
meningkatkan kompetensi guru serta perluasan akses pendidikan di daerah seperti Kabupaten
Madiun akan menghasilkan guru yang kompeten serta profesional yang tersebar secara
merata di seluruh wilayah di Indonesia.